Tradisi Imlek Ini Hanya Ada di Indonesia

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInShare

Tahun Baru China atau Imlek memiliki tradisi yang dilakukan turun temurun. Uniknya, tidak semua daerah di dunia atau bahkan di Indonesia memiliki tradisi Imlek yang sama. Masyarakat Tionghoa yang lama bermukim di suatu tempat, menyerap budaya setempat dengan tradisi di China, sehingga melahirkan tradisi baru.

Tradisi Imlek Ini Hanya Ada di Indonesia

Tradisi Imlek Ini Hanya Ada di Indonesia

“Tradisi Imlek yang dilakukan di Indonesia saja diabadikan oleh kaum Peranakan yang menganut Konghucu berupa sajian makanan mengandung santan seperti opor ayam dan lemper,” kata Ketua Program Studi hCina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hermina Sutami di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Salah satu kuliner penutup Imlek khas di Tionghoa Indonesia adalah lontong cap go meh. Kuliner lontong dipadukan sambal goreng hati juga aneka masakan lain seperti sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal dan kerupuk.

Pemerhati budaya China, Agni Malagina menjelaskan bahwa lontong cap go meh merupakan bentuk makanan adaptasi tanda hormat masyarakat Tionghoa di pesisir Laut Jawa terhadap masyarakat setempat. Masyarakat setempat menyantap ketupat dan opor ayam saat perayaan Lebaran.

Selain itu ada pula hidangan ikan jenis bandeng yang merupakan adaptasi Tionghoa di Jawa, yang diserap dari tradisi Betawi.

Alwi Shahab dalam buku “Saudagar Baghdad dari Betawi” menjelaskan jika dalam tradisi Betawi, ikan bandeng yang menjadi antaran bukanlah ikan yang sudah dimasak, melainkan satu ekor utuh yang masih segar.

Di buku Alwi, dia bahkan bertutur bahwa ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertuanya bisa menentukan kelanjutan perjodohan.

Kue lapis legit yang banyak beredar saat Imlek ternyata juga bukan tradisi Tionghoa asli. Kue ini merupakan resep khusus warisan nenek moyang saat bangsa Indonesia dijajah Belanda selama ratusan tahun. Resep lapis legit menggabungkan rempah khas Indonesia.

“Lapis legit, bolu ‘bergengsi’ dan mahal yang tidak dapat dimakan setiap hari, maka pada kesempatan istimewa seperti Imlek, lapis legit menjadi kue lambang kemewahan,” sebut Hermina.

Tak hanya makanan, sebenarnya ada tradisi berpakaian ala Tionghoa peranakan yang dilakukan sebelum Orde Baru.

“Sebelum Orde Baru, pada hari Imlek para ibu-ibu dari keluarga Peranakan memakai kebaya encim dengan kain Pekalongan yang berwarna cerah untuk dipakai saat mengunjungi kerabat,” jelas Hermina.

Memakai baju Cheongsam merah bukan kebiasaan Tionghoa di Indonesia. Sedangkan anak-anak dan para gadis, menurut Hermina, memakai rok biasa. Namun budaya tersebut tidak ada lagi semenjak Orde Baru.

Comments

comments